Showing posts with label thought. Show all posts
Showing posts with label thought. Show all posts

Friday, August 8, 2014

Revelation. Ditujukan untuk sesama Muslim.

Itu sudah ada addressing ya di judulnya.
Human, you've been warned.

Mohon maaf lahir batin dulu juga..

Baru sadar... atau baru dapat friendly reminder lebih tepatnya...
1) Nikmat itu ujian.
2) Ujian paling berat itu dalam bentuk nikmat.
Misal: Aib yang ditutupi... (korupsi, nyolong, nipu, curang dsb ga ketauan), hiburan yang bikin lupa diri...

Karena mudah untuk mengingat Allah SWT di kala susah...

Kamu boleh mengejek kalau ada yang bilang yang ada di televisi -atau any modern form of entertainment these days- itu isinya kerjaan konspirasi yahudi, zionis, konspirasi global atau apalah itu...

Tapi coba liat, yang paling kecil deh... Jam tayang primetime itu jam berapa sih? Jam-jam maghrib - isya...? coba, berapa kali shalatnya ga ontime gara-gara tipi?

ini baru soal waktunya, belum ngomongin isi programnya... belum ngomongin medsos, belum 9gag, belum...

jaman SD, guru saya (guru Al-Azhar) pernah cerita... "yang namanya muslim itu, segimanapun juga (bandelnya?), ga ada deh yang mau murtad"

Nah...oknum-oknum yang disebut di atas itu tau, makanya ga jaman lagi deh bikin muslim keluar dari agamanya dengan menghunus pedang...

Kamu pernah tau media internasional berapa persen yang dikuasai yahudi? Kalau belum sadar monggo itu diliat soal konflik palestina beritanya media amerika sama inggris isinya apa...

Kalau mau liat ke belakang, mulai dari tahun 2001, atau kalau di Indonesia liat sekitar jamannya tipi kita isinya amrozy, imam samudra dsb...

Lihat...
Mereka bikin image sebegitu buruknya tentang Islam.
Kamu percaya kalau mereka yang Islamnya kaffah (atau istilahnya apa kalian maunya? yang Islam bingits?) akan dengan otomatis berpikiran untuk membunuh mereka yang kafir? Macam indoktrinasi "Islam garis keras = teroris"...
kamu percaya?

Padahal kata Islam sendiri artinya damai.

Kamu lebih percaya indoktrinasi itu daripada cari kebenaran ke kitab suci sendiri...?

Kalau ada ulama bikin fatwa atau statement apapun, kamu lebih cepat skeptis bawaan sensi dibanding cari ayat atau hadist yang mereka pakai jadi dasar ucapannya? (kalau memang mempertanyakan, atau ingin mengkritisi?)

Padahal....

ayat soal perang yang paling awal saya temukan di Qur'an:

"dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS 2:190)

dan di QS 2:217 tertulis
"Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad dari agamamu, jika mereka sanggup"

nah, gimana...

Zionis thingy ini ramenya bukan baru sekarang kok. Bukan cuma karena zionis yahudi menyerang palestina. Bukan. Serius deh.

Saya pribadi tau zionis pertama kali sekitar SMP-SMA. Lihat video dakwahnya Ummi Irena Handono, beliau ex-zionis (atau misionaris ya istilahnya?).

nih, saya tulis begini, dengan harapan kalian yamg ngeroso misuh-misuh, tapi ya ga cuma misuh-misuh doang...
Itu Qur'annya dibuka, dibaca terjemahnya dari juz pertama...
Itu disearch videonya Ummi Irena Handono.

kalau cuma misuh-misuh ya...
Jujur berarti dakwah attempt saya gagal... nanti kalau nemu yang menarik saya share lagi, tenang aja...
Dan yang jelas ya... kalau cuma misuh-misuh...
Artinya itu apa?
sini saya eja buat kamu: mereka b-e-r-h-a-s-i-l

Postnotes:
Saya ga kenal itu imam samudra dan kawan-kawannya... tapi kalau kamu cari sumber yang tepat, dan lihat siapa kepala badan intelijen negara kita jaman itu... the thing about "membuat nama Islam jelek"... it will make sense.


Posted via Blogaway

Tuesday, June 3, 2014

So here is the thing

I don't see what you're calling diamond
You don't want to see what i'm calling trashbin, either

Let's just keep our thought to our self, because clearly, we both want to be heard but not listening to each other.

I outgrew your opinion, can you at least see that?


Posted via Blogaway

Sunday, May 11, 2014

Many days many things much thought much feeling

Long time since the last time i even logged in!
on my 6th month here in Buton. Almost halfway through. Can't say it's perfectly smooth, but i will manage.
It's bumpy here and there, mostly in "human interaction" part. Or just simply in being human.

Lots of thing happen. There were things that i missed going at home. There were moments i wish i could attend, effort i wish i had act upon, consolation i wish i could give or maybe have. I... am not the one with most regret, at least i hope so. but sure i have stuff i could patch up here and there. step by step. Little by little.

Chin up, straighten up, hype up.
Hup hup ha!

all in all, this place wasn't that bad. If you compare with others... perhaps we have less facility, more rural area, less entertainment (?), and all sorts. But really, it's not some place i feel like running away from.

It's nice, not wanting to escape from anything.

People are nice when you don't put too much thought into it. It's just the hospital management is rubbish. It's eye opening, knowing how exactly adults work. There goes my trust for the government, at any level. Ha.

Living independently away from home is new. It's challenging to say the least. My first worry was more about taking care of myself, doing housework and all sort. Have no experience in it, but has no intention in being incompetent. Turns out I can be a fast learner if i have to. It's probably a bit sad to say i'm quite used to being away from my family. Five years of living at home but not exactly living together at least for around three years...living two hours away relying on Jakarta's patience-wearing public transportation.I'm probably also used to not getting what i want, too. So at sometime i stopped wanting for something too badly (oh i remember the cause for this one! It's kayo's case!), or relying on anyone else. To put it simply, i'm a spoiled kid with trust issue (With a commuting skill! And now with basic cooking skill!).

We came as friends. Whatever it is i can call friend from this school, with my trust issue. (Because really, none of you share my hardship bearing jakarta's unexpected traffic, and in the end none of you really cared, didn't you?). But somewhere in the middle we drifted apart. it's quite pathetic to be honest. None of us genuinely trying to fix the relationship... it doesn't feel genuine at least to me. Always like "what now? What's next?" Bracing myself for underlying venom, bracing myself for disappointment. But it's me with my trust issue, so let's just leave it at that.

We drifted apart. Everybody's changing, Tom Chaplin sang. Not exactly change of character, scarily it feels more like reveal of nature. It tests your ability to adapt, to blend.. no, to tolerate would be more accurate...
In the end we still drifted apart. Period. I failed to tolerate, and i failed to negotiate with myself trying to reason people's behavior or action.

It goes with the line "whatever the hell is wrong with you?"

See, i don't tolerate.

I need to practise on it, about lashing out, putting out the right words and choosing the right temper to manner it. But seriously, i haven't been this vicious verbally, even with ibuk-ibuk tenabang and mbak-mbak sudirman (well, i was vicious with a stabbing pen though) for quite some time...

I need to change that part of me, at least i know that. I need to not thinking things that doesn't need my concern.

At least i'm wishing to change myself, still. It's a start. Let's see if i can manage it.

Some revelation:
The thing is, any kind of relationship, even the mutual one, isn't always as mutual as it seems. You might love not as equally deep and still be with each other, one might sacrifice more than the other for the sake of the pair. Same goes with friendship... there are levels of it, and between two people, it wasn't always on the same level. Realising that shouldn't make you stop hanging out with each other, let alone make you enemies. You should just value what you have, it might deepen over time or it might not.

When you can't get what you want or have what you expected, it's not always the world's fault, and you can't always blame others. The world isn't a wish granting factory, quoted from John Green. And more importantly, the world doesn't revolve around you.
So you don't get the consolation you want? Have it cooked and swallow it, then move on with a fuller tummy and a wiser mind.

Because really, the world doesn't work your way.


Posted via Blogaway

Wednesday, December 19, 2012

It's raining and i will just open my umbrella.

It has been dark, i thought.
But then things can actually be much worse.

It's been surprising this couple of days.

While i'm here with my ownself as my war, i see some example whose battle would probably impossible for me to fight.

Therefore, i will admit where i lack. And get ready to make it up.
This is my fight and i shall not lose.
This is my combat, one that i will calmly face.

And to reach the calmness, i shall prepare.

postnotes:
My condolescense to one of my highschool bestfriend, whose war i may not survive in. Sorry i'm not much of a help despite your trust.

Saturday, December 15, 2012

Memulai kembali

Tadinya ingin pakai bahasa Inggris.
Restart.
Tapi agaknya yang akan saya lakukan tidak semuluk me-restart.
Saya tidak bisa memulai dari awal lagi. I don't think i have the chance to start fresh, anew. Not now, at least.
Tapi setidaknya...
Saya akan mengais, memungut, dan menyusun ulang apa-apa yang sudah saya tinggalkan... termasuk semangat saya yang sudah berceceran.

Memulai kembali.

Untuk sekarang, apa yang ada saat ini terlalu besar untuk dilepas, seberapapun beratnya hati merasa "ini yang menahan saya dari apa yang saya inginkan".

Tapi ya, saya akan memulai kembali. Dengan serpihan hati yang masih ada, dan mungkin mencari yang baru nanti, melanjutkan kembali perjalanan ini.

Mungkin, suatu hari, saat sudah tiba tujuan, saya akan bisa berkata...

Hati ini mungkin memang sebegitu rapuhnya menghadapi kegagalan.
and committment clearly isn't my forte.
tapi saya bisa terus berjalan, meski perlahan, meski terpincang.
Terima kasih karena tidak menyerah.

Saturday, May 5, 2012

meluruskan otak. meluruskan hati.

jadi saya sedang gundah gulana.
dikala biasanya orang (atau saya lebih tepatnya) curhat biar bisa meluruskan "sebenernya masalah saya apa sih" atau bahkan sudah sampai tahap "oke jadi apa yang mesti gue lakuin..."
saya sudah entah dari kapan tau "oke gue mesti begini..." tapi ngga dilakuin juga... semangat naik turun... dan mungkin sampai pada titik tertentu berpikir "yaudahlah yaa" tapi dengan batin yang gelisah (iya, seriusan, gelisah, kaya orang gangguan cemas). ga ngelakuin apa-apa, tapi pas lagi ga ngapa-ngapain itu ya hati ga tenang tidak nyaman tidak damai. tilikan derajat 5 lah pokoknya.

setiap bilang "okay starting today i will..." ujungnya hanya janji kosong... lalalalala...
saya semakin ahli procrastinating. atau semakin ahli ngeles juga mungkin. why oh why.
semacam anak yang banyak maunya. mau doang. usaha kaga.
gundah gulana lah pokoknya.

dengan segala idealisme dulu bahwa "getting stuck in a certain level and not climbing up is what i fear the most"
and yet now that's exactly what's happening... with me knowing that i have to do something to stop myself from deteriorating, again at some point knowing what to do, but never actually do it.

"it's your own fault, nis" ya ya i know *rolls eye*

entah sudah berapa modul... sampai-sampai benar-benar berpikir "i don't belong here... i don't think this is what i want to do for life"

now that i think about it, itu cuma pelarian kayanya... i'm a quitter, i know that. meski pernah mencoba dan mencapai titik-titik di mana saya me-tekadkan diri menjadi seseorang yang berkomitmen.... saya tau saya akan punya tendensi untuk lari, untuk kabur, di saat saya tau saya akan gagal.
an "i have nothing to lose" attitude, is something i need.

saya yakin saya pernah berada dalam periode di mana saya bisa melihat kegagalan sebagai "yah, namanya juga belajar... kalau ga sakit ya ga belajar... berarti next time begini begini begini... next time saya harus perhatiin ini ini ini..."
tapi ya itu... dasar saya bocah "knowing what to do but not doing it",so it's no surprise failing on something supposedly anticipated.
dan teteup dong kecewa. dan tentunya dengan menyadari begini, kecewanya paling besar sama diri sendiri. blaming circumstances is always easier to do. serius deh, dibandingkan memandangi diri sendiri dengan hina. which, now that i realize, is my hugest source of self esteem.
dan jadilah saya seorang pengecut. yang lebih memilih lari saat merasa akan gagal. yang lebih memilih diam dan tidak  mencoba karena takut gagal.

yang berdalih tidak bisa percaya orang, karena takut dikecewakan.
i just don't trust myself. now, that's the truth.
if i don't trust myself enough, don't even appreciate myself enough, how would i do so to other people?

semua dari "tau mesti ngapain, tapi ujungnya ga dikerjain"

i don't know what i want to do in life. saya pengen ke jepang. itu yang pasti.
dan pilihan jurusan saya membuat keinginan itu agaknya jadi (sangat) sulit untuk dicapai dengan kelakuan tilikan derajat 5 saya.
sampai akhirnya saya berpikir "i hate this, why am i even doing this, i'm not suitable for this, i'm not interested in this"

ngga kok nis. you know you'll be in a good mood and good spirit once you accomplish something.

gee i even realise why it's so hard for me to actually produce some good writing.... because i don't want to think, i don't want to contemplate, i don't want to observe. saya cuma mau lari.

now as lowly as it is, - cause i know i'm deteriorating so i no longer should compare my now self to my old self, it's crushing down my already low self esteem - gue membandingkan diri gue dengan orang-orang yang pernah gue kenal mungkin sekitar jaman SD jaman SMP (dan sekarang sejujurnya gue ga tau how their life is, just getting slight impression). some of them seemingly live better life than mine, some live life i'm not interested to live in, some live life i cannot imagine as to how could they feel content being so....

but then i realize... ah ya, that feeling of achieving, of accomplishing, yang jadi sumber self esteem saya lah yang bikin saya stres berat begitu itu tidak tercapai... (sekali lagi karena tilikan derajat 5)

they could feel content being so. okay, you want people to be more ambitious, just because deep down you actually are. tapi ya ayo ditanya "why aren't you feeling a little bit content with what you have?"

because even when you know you still have so much to do, so much to chase, so much dream you want to make real... it's never wrong to be thankful of what you have now.


semua ada jalannya nis.
semua punya jalannya sendiri.

do'a hari ini: semoga bisa jadi tilikan derajat 6.

Wednesday, March 21, 2012

karena saya sudah terlalu lama mengabaikan

ya, sikap masa bodoh itu mungkin hanya kedok.
mungkin hanya pelarian.

sikap masa bodoh itu sekedar upaya untuk menunda, atau bila diperbolehkan, untuk tidak perlu memikirkan sama sekali mengenai masalah.
ada masalah yang memang tidak perlu dipikirkan. tapi semua tau masalah seharusnya diselesaikan. sikap masa bodoh itu pelarian. karena kecilnya diri menghadapi tembok. karena enggannya diri melangkah keluar dari gerbang kenyamanan.

pikiran saya terlalu lama bersantai-santai. antara menggampangkan segala hal, atau justru mengaggap semuanya terlalu sulit untuk dihadapi. masalah nyali ini sudah terlalu lama terbengkalai. hingga pada suatu saat diri berusaha memulai, ia sadar kalau sudah nyaris tidak punya hati.

lebih mudah menganggap diri tidak punya hati sama sekali, dibanding menghadapi rasa sakit. ya, mungkin ada cara lain untuk akhirnya berbesar hati. ya, mungkin seharusnya kita berusaha memahami. tapi ya sekali lagi, pikiran saya kurang lebih sudah kaku, sudah terlalu lama tidak berputar membantu hati bertemu dan mensortir rasa ngilu.

kalau tidak sakit ya tidak belajar.

itu benar.
saya tidak mau sakit. makanya saya bersikap masa bodoh. akhirnya saya tidak berpikir. dan tentunya saya jadinya tidak belajar.

memulai kembali setelah sekian lama berhenti juga bukan perkara mudah. pasti bukan perkara mudah.
semakin lama menunda semakin besar dan tebal tembok ketertinggalan itu kokoh berdiri. dalam hati menunggu berujar "mungkin nanti saat nyali sudah terkumpul", dengan mengetahui segala rimba ketakutan itu tumbuh lebat dengan akselerasi berkalikali lipat. yak, dan semakin lama diri memulai, semakin sulit lah diri membuka.

karena tumbuhnya nyali tidak akan bisa menyamai tumbuhnya kerisauan.

kemana saya yang dulu? diri bertanya.
dia pergi. dia berlari. hatinya memilih mati.
saya risau menghadapi masa depan. saya ragu menghadapi saat ini. tapi saya tidak perlu dikembalikan ke masa lalu. saya hanya rindu diri yang dulu.

tanpa menyalahkan, tanpa bisa menyalahkan, tanpa ingin menyalahkan, tanpa ingin dipersalahkan. saya hanya rindu diri yang dulu.
ini doa hari ini: ingin bisa mengembalikan dengan cara melangkah ke depan.


dengan kesadaran penuh, diri yang sekarang bukanlah yang terbaik yang bisa diharapkan. entah berapa banyak mata menatap nanar enggan bahkan untuk mengoreksi. ya, saya harus berhenti dari keberhentian. sebelum semua yang tertumpuk tumpah ruah longsor mengubur.

ya, saya akan bergerak. meski perlahan. ini doa hari ini: semoga semua yang harusnya kembali, akan kembali dengan cara melangkah ke depan.
dan meski yang kembali itu tidaklah seutuhnya persis seperti yang dulu, biarlah ia menjadi sesuatu yang baru.






Wonderwall - Oasis (boyce avenue cover)
by now you should've somehow realize what you gotta do.

Saturday, February 18, 2012

half hearted

so i'll be here... flipping back memories. no it wasn't so bad. the old days.
it's not bad at all, in fact.
part of me missess those days. i don't know if you do too. but even so i'm sure you're having them treasured in your mind too.

i'm probably one who stuck with the past. half heartedly.
whether it's bad or good, i don't know. being half hearted in something like this.(laugh)

what's good of me that's left, i'm wondering. i surely waste so much oxygen, and money, being alive.
but to die is not an option since i'm too indebted to life. 'at least try repaying first' i thought. yeah, at least i have to try giving some payback.

seeing how it was back then, it's kinda scary how i am what i am right now. what happenned? many things did. but which is doing which, which of those has cut the strings in me, i don't know anymore.

so i remember reading somewhere about the youngsters being all idealist; optimistic-fired up- all ready to make change. and by middle age you are one realist; a total pesimist, almost synical about everything.
i'm only 20, yet i feel like 50. oh how i lose the ability - or probably the will- to trust anyone at all.

i miss my spirit.
i miss how i don't care about everyone else's opinion to go on.
how i can easily sort 'i will listen to these ones but i will ignore these others'
how i have so much courage inside me.
how i can voice out my thought easily.
how i'm dyed in my own colour.

i know i lost faith somewhere.
it might start with a little misunderstanding or something similar. yes, that. a little, yet unsorted and unsolved misunderstanding. leaving a cleft, of feeling betrayed, in my heart. and so now there's a gaping hole, making me a crippled on being able to trust.

losing passion, wondering what i'm doing everyday.
no sense of achievement at all.
if i try giving a little effort thinking about it, i think i know why.
you know that nice feeling of having a dream right? of setting up goal? of running your best toward that goal? of giving it all, trying to reach.
well imagine trying, and not having the slightest clue whether you are heading closer to the goal or not.

i guess i'm just half hearted.
i guess i'm just too cowardly.
yeah, i think too much about these meaningless fear of failing.

at some point i'm desperate. half heartedly desperate. yes even at this i'm half hearted.
i know i've been half hearted that maybe the solution to breakfree from my silly complex is just to give it my all that i don't have any regret in the end.
and yet, i don't want to push myself more out of fear of feeling an even greater confusion, and perhaps pain, of not getting lost.

i probably just need to push myself harder.
but seriously. after being lost and swirled around for quite some time, missing the feeling of arriving at a destination can be frustrating.

let's just say those kind of acknowledgement is my basic need to go on. and, well, not having it... is killing me.

half heartedly wanting
half heartedly fighting
half heartedly laughing
half heartedly living

i might as well half heartedly crying

yes i'm probably close to a zombie.

wanting my old self back yet too afraid,to even to try, making it happen.
half heartedly stuck in the past.

the always half hearted one
why can't i try to let loose

Monday, August 8, 2011

Indonesia Raya

bangunlah jiwanya...
bangunlah raganya...

sudah berapa tahun lamanya?
lebih separuh abad

sudah bangunkah?
sudah berusaha membangunkah?

sudah tidur lagi....

ibu pertiwi










karena kami tidak bisa meminta maaf
kalau kami tidak tahu kami salah

Monday, June 20, 2011

#RI-saudi: kita tidak dihargai

*sigh*

ruyati dipancung: pemerintah tidak pernah diberi tahu soal eksekusi —> ga dianggap dong pemerintah kita?

“kalo keluarga ruyati memaafkan, pemerintah saudi juga akan memaafkan”

emang butuh maafnya saudi minta maaf kenapa? yang katanya ‘dibunuh’ sama ruyati itu ga diliat dulu kenapa ‘dibunuh’nya? kalo ternyata si ‘terbunuh’ uda memperlakukan ruyati kaya binatang kenapa juga kita butuh maafnya saudi?

soal darsem

ini orang pemerintah yang diundang ke TVone semacam ga tau duit yang kekumpul udah berapa… bahkan kaya “oh iya mesti kumpul duit yak biar ga dipancung”

yang disebut dari masyarakat, dari PMI (yay for JK yay!).

sebenarnya dia sempat sebut kemlu (which is kementrian luar negeri kan harusnya?)

tapi waktu ditanya ulang sama host nya “kenapa tidak ada dari pemerintah?”

dia jawab “yaa kan tidak harus dari pemerintah…”

lupa sama jawaban sendiri itu tandanya apa yaaaaaa

metro tv: politik, nikah beda agama, poligami di mata anak muda

@Metro_TV: Bgmn pandangan anak muda ttg politik yg kian memuakkan? Bgmn mereka memandang agama, perkawinan beda agama & poligami? Suara Anda pkl 19.05

politik? lo menyebut apa yang dipegang sama presiden dan kroni kita sekarang itu politik???!!!! itu namanya barbarisme kawan~ mereka terlalu ga berotak untuk dibilang berpolitik…

nikah beda agama ga ada hubungannya sama lo anak muda atau bukan. itu hubungannya sama pemahaman lo.

poligami itu juga ga ada hubungannya sama umur. basically itu bergantung sabar-sabarnya elo, dan mungkin masochist-masochistnya elo… dan untuk yang punya cinta banyak, bergantung pada sombong-sombongnya dan gakpuas-gakpuas nya elo~

Monday, April 18, 2011

agenda

saya yang punya tendensi ngajak ribut ini, tadi pagi ribut sama salah seorang kolega lewat sms (berhubung ruang kelasnya beda)

tidak. saya bukan orang yang segitu tidak menganggap penting teman. tapi sekali lagi, itu ya itu, ini ya ini. serius waktu harus serius itu perlu.



jadi singkatnya, setelah tadi kena sentilan 'saya sakit hati loh' hasil ribut-ribut tadi...

saya mau ngedumel di sini... (karena takut orangnya nangis darah, masalah jadi runyam dan kerjaan yang merupakan asal muasal ribut-ributnya malah tidak selesai, dan agak malas karena nanti pasti akan dibalas dengan alasan-alasan dengan bahasa berbunga-bunga)



buat tante yang di sana



bukannya kalo sesuatu ga diprioritaskan gak akan pernah jadi prioritas?

maaf, saya gak sekeren situ yang bisa jadi petinggi megang amanat dan sebagainya dan seterusnya, jadi saya juga gak ngerti urutan prioritasnya situ gimana... tapi, bukannya kita sama-sama pelajar ya? bukannya harusnya prioritas tertinggi kita sama?

naaah... kalo uda menjadikan sesuatu prioritas bukannya uda ga boleh menyamenye lagi? kerjain ya kerjain, ngga ya ngga... kalo ditunda ya berarti bukan prioritas, toh?



Rasanya dulu waktu pertama kali masuk organisasi kita pernah sama-sama dengar omongan 'orang itu makin sibuk makin pinter menejemen waktu...'

sekarang saya mau komplen, "muaaanaaaa buktinyaaaaa?"

nggak, ternyata... bukan makin sibuknya yang bikin jago ngatur waktu... tapi gimana sibuk itu bikin diri sendiri jadi semangat untuk menata hidup, itu yang bikin menejemen waktunya jalan.

yang mau teratur ya teratur, yang keteteran ya keteteran aja terus. mau uda berapa taun sibuk kek, mau seberapa sibuknya kek.

nah mbak yu, semangatnya ada ga?



mbak yu punya agenda? mbak yu punya smartphone?

isinya apa? akademis dimasukin ga mbak yu? ada reminder buat ngerjain tugas ga mbak yu?

gak ya? cuma yang penting-penting aja ya yang bisa masuk agenda mbak yu? semacam janji ketemu petinggi ini, janji menghadiri pertemuan itu...





kalo hidup sudah hectic... apalagi buat saya yang suka tiba-tiba serangan panik dan akhirnya lupa mana yang mesti dikerjakan dulu, bukan ga manusiawi ngandelin agenda... yah setidaknya sampe hidup sudah diberesin satu-satu sampe ga hectic lagi... jadi bisa ngandelin kepala sendiri lagi abis ini ngapain terus selanjutnya ngapain terus hari ini harus selesai ngapain dst deadline-deadline lainnya...





kalo mbak yu yang petinggi ini, gimana ceritanya?

Friday, April 8, 2011

saya baru dimarahi Pak Kalla :')

Jangan kita menjelek-jelekkan bangsa ini. Kalau Anda semua selalu mengejek, siapa yang harus menghargai bangsa ini?

Ya. Saya, kita, tidak cukup menghargai bangsa ini. Kita tidak cukup menghargai diri sendiri.

Jangan menjelek-jelekkan bangsa ini.
Dalam artian berkotor mulut mengejek-ngejek, dan semoga juga dalam artian bersikap buruk sehingga menjadikan 'dipandang jelek'.

Saturday, March 26, 2011

ironic

full ramble can be found here on my tumblr

it's... sort of unfortunate...

how we're supposed to serve people, gain people's trust, show some empathy and the whole blablabla noble thingy we're going to do later after we graduate

later, when money starts becoming a necessity. when the thrive to be a self-centered bastard are waaaaaaaay bigger than now, being the so-called idealistic-realist 'mahasiswa'.


and yet we can't even appreciate people, the teachers, who are sparing their time for us
we can't even respect those who gave us so many knowledge to be what we dream to be (not some money-making machine hopefully)




'oh that's just me being young... i'll sure appreciate my patient when i become a doctor'
got that in mind?


think again

will you really spare any glance when your patient can't even afford to pay for the drugs (that somewhat you'll have to give it for free, or even pay for it) let alone pay for your 'service'?



it's not just attitude problem
it's a view-of-life view-of-world problem

Wednesday, March 16, 2011

bla-bla-bla nationalism. BAH!

Just read about how even with all the disaster happening, there's no looting in Japan.

National pride. The people of Japan love their country and do what is best for the nation

It’s the Japanese culture - very refined, dignified, disciplined and civilized.

:') I'm so proud of these people. I want to live somewhere with such discipline.

Honestly, I couldn't even imagine what would happen, and how the people would behave here in my country if such event occured.

The queue we have when getting out of train at Tanah Abang Station is somewhat worse than how the Japanese tries to get out of a building when an earthquake occur. get the idea now?

Living here, every once in a while you're going to wonder 'is there even any system that regulates things around?!'. Because a true application of regulation and orderliness are simply nonexistent, well... almost... or just invisible, for the least.

Now remembering things in my head back then in 2008... When i first got into college, and attended this oh-so-sacred event called OKK (some sort of college orientation) which had "bangkit Indonesia" - literally means rise up Indonesia- as the theme for that year.

We love the country more that we love ourselves. We love the people more than we love ourselves.

They made us carved that promise by heart. And yes, I would love to, with whatever I can do, make some change -better changes- to this country.

Because really, no matter how much foul or rottennes you get to see on the people you pass by everyday... Somewhere else, some people really deserve more than whatever they're having now.

oh-so-sacred. it was sacred, really. it's now oh-so-sacred due to how the thought they tried to plant had almost become some sort of bullshit inside my head. Blame my daily Jakarta traffic dose.

I really really want to live in Japan. No, not just because of my unending love for Gotch of AKG, not even for my crushes on JE boys.

Yes, honestly i'm too skeptic to even try making my country move towards this better, ideal, civil society condition. i mean, we have an over melancholic cow as a president... it somewhat shows how wrecked most of our minds are.

Most of us never think about why a regulation is made, therefore never much think how the consequences would be when we disobey. Wondering where our brain went out to?

Most of us do things without really thinking how other would get affected by the action, or at least try to imagine what would happen to ourselves when there's someone doing such act around. Okay, then we said we have heart. Then we said we have intelligence.

Most of us want things to get better, but do nothing to change it. Duh! have you ever heard that doing the same thing in repetition and expecting the result to be different is crazy?

Okay so we have a government so foul that trusting them is partly, if not fully, a sin. or at least will trigger you to be sinful later (from the dischannelled anger they cause). and you hate the politicians. and you feel like killing the corruptors. and so on and so on.

but let's take a look at ourselves. deep down you know all these huge rotten happenings in this country are results of ALL OUR OWN badness piled up together. There's such thing at karma. The deterioration goes in cycle and you know it.

so please people, have a brain, have a mind, have a heart. make things right.

because i almost don't have the will to anymore.

Monday, March 7, 2011

ikhlas

satu hal yang gue sadar setelah sekian taun (oke berasa tua) terlibat kemahasiswaan kampus



yang membuat orang-orang ini hebat bukan kemampuan organisasi kemampuan interpersonal luar biasa mental visionaris dan blablablanya

mereka hebat karena mereka peduli

dan kita yang dari awal memutuskan untuk terlibat, juga adalah orang-orang yang peduli



mereka yang hebat-hebat ini, bukan berarti ga pernah capek, bukan berarti ga pernah jatuh, bukan berarti ga pernah panik, bukan berarti selalu ada di atas awan, bukan berarti bukan manusia

mereka yang hebat-hebat ini... lebih memilih untuk menggunakan energi dan waktunya untuk bangun dan bangkit...

all we need is to stop complaining



mereka-mereka yang hebat ini tumbuh, berkembang, dan mendapat manfaat... yang nilainya mungkin lebih dari yang mereka usahakan

kita juga berusaha peduli, kita juga berusaha berkomitmen.... yang membedakan?
ikhlas

the more you give the more you get




minta ampun sama senat, FSI, MA dan pihak manapun yang pernah merasakan kontribusi kurang berarti saya yang penuh keluhan
minta maaf sama diri sendiri karena tidak bisa memanfaatkan waktu 'belajar' sebaik-baiknya

saya selama ini belum ikhlas

Friday, December 3, 2010

semoga

semoga

setelah ini semua, meski pasti tidak akan seperti dulu lagi, semoga semua jadi menyenangkan

setelah ini semua, meski ada banyak hal yang sebenarnya tidak perlu, semoga tidak jadi enggan memberi

setelah ini semua, meski sempat, dan akan, terasa sakit di sana-sini, semoga tetap mendapat manfaat, tetap memberi manfaat


kalau saya jadi berhenti berusaha untuk berkembang dan bermanfaat cuma gara-gara kesel-keselan sakit hati-sakit hati kecil-kecilan, saya jadi mau bilang ke diri sendiri

"yah, ga tumbuh sama sekali dong lo anaknya?"

Friday, November 19, 2010

kenapa pergi terasa lebih menyenangkan

jadi bibit yang ditumbuhkan itu menyenangkan...
punya tempat untuk tumbuh subur juga menyenangkan...


boleh saya bilang, "sepertinya saya sedikit mengerti kenapa orang itu memilih pergi.."?

entah saya yang cengeng atau terlalu manja
mungkin ini sesuatu yang seremeh dan sesederhana 'prasangka'
tapi toh terasa juga

saya tidak tau apa yang seharusnya saya tau
apa harus saya yang berusaha cari tau, dan tetap ternyata tidak mengerti
dan ternyata orang-orang tidak merasa saya perlu tau

jadi kesimpulannya: saya tidak diperlukan

itu hanya prasangka, mungkin
itu hanya rasa suram yang terlalu dipupuk, mungkin

tapi toh tidak ada yang berusaha membantu menumbuhkan peneduh dari segala keburukan itu

jadi saya simpulkan: saya tidak diperlukan


boleh saya sedih?
karena meski kita selalu berkata sayang, meski kita selalu mengaku keluarga
nyatanya kita tidak pernah sadar ada yang butuh peneduh itu
atau tidak berusaha memberi peneduh meski sadar?

ha ha ha
mari tertawa pahit

kita keluarga, ya
tapi kita punya wadah yang lebih besar lagi, keluarga yang lebih besar lagi

saya tau, saya sadar betul rasa keluarga yang kita punya membuat kita sangat saling berusaha menopang satu sama lain
tapi satu, tolong jangan lupakan wadah yang lebih besar itu...

kita tidak terkotak, tidak seharusnya terkotak, dan tidak boleh terkotak

ya, kita menghabiskan waktu bersama dibanding yang lain
ya, kita teruji ombak yang mungkin lebih beragam dibanding yang lain
ya, agaknya kita lebih terikat dibanding yang lain

dan sekali lagi, kita tidak seharusnya terkotak
kotak ini terasa ada, disadari maupun tidak

kotak, ikatan atau sesuatu yang mungkin kita sebut kekeluargaan
ada, kental, erat, yang pada suatu titik kita nikmati dan kita rasa nyaman

tetapi begitu sedikit terlepas dari sana, sedikit melangkah keluar dari sana
akan sangat terasa seperti dinding

boleh saya sedih?
saya menyayangi keluarga saya
saya menyayangi wadah besar saya

jadi, iya atau tidak, saya sekarang kalian taruh di luar dinding?

Tuesday, October 26, 2010

Dang!

"Dang!" dan "hahahahaha"
adalah dua respon pertama yang muncul di otak gue saat melihat postit di atas tampil di thingsweforget

sejenak jadi mempertanyakan: uda ngapain aja? dan mau ngapain nantinya...

saya di sini, saya menginvestasikan waktu saya di sini, saya menginvestasikan diri saya di sini... investasi, bukan membuang... jadi ayo coba tanya: apa yang saya dapat? apa yang saya hasilkan? apa yang saya capai? hal macam apa yang lahir dari diri saya dan waktu saya ini?

kestatisan? kemunduran? kemajuan?

seberapa banyak belajar, seberapa banyak meresapi, seberapa banyak mengerti, atau mungkin sekadar mencoba untuk memahami

seberapa beda sih, saya sekian waktu yang lalu dengan saya yang sekarang?
tarik nafas, evaluasi (bosan dengan kata ini? jangan... berusahalah untuk tidak bosan)
bagian mana yang membuat saya bisa lebih baik, bagian mana yang membuat saya tidak lebih baik...

orang lain bisa, kenapa saya tidak?
tarik nafas, evaluasi
bagian mana yang harus diubah?

belajar untuk tidak habis karena waktu, belajar menghabiskan waktu, belajar memanfaatkan waktu

saya sudah memilih untuk menggunakan waktu saya, diri saya di sini
saya ingin menghargai diri saya sendiri, dan berusaha mendapatkan, menghasilkan dan memberikan sebanyak mungkin yang saya bisa...

saya
bukan makhluk titik nol
tidak akan selamanya di sini, setidaknya

seberapa tinggi grafik saya akan bergerak nantinya, saya tidak tau
tempat seperti apa yang akan membuat grafik saya bergerak dengan optimal nantinya juga saya tidak tau
tapi saya ingin bergerak, itu yang pasti

#yaolohsayastresyaoloh

Saturday, October 9, 2010

#pengenpensiuntapigarelagituceritanya

lagi butuh wejangan.
ingin curhat langsung kalo bisa.
anggaplah ada pergolakan jiwa atau pikiran atau komitmen dan semacamnya, pokoknya stres.
dan sejujurnya sepertinya saya masih takut dewasa, takut diandalkan, takut tekanan, takut mengambil keputusan.
tapi di satu sisi, saya benci stuck. saya benci jalan di tempat. saya benci tidak berkembang, bisa dibilang takut juga mungkin.
saya, sedang merasa tidak berkembang, sedang merasa tidak bertumbuh. tidak bisa melihat apa yang harusnya saya lihat. tidak memahami apa yang harusnya saya pahami. atau tidak pernah berhenti sejenak untuk mencoba melihat dan memahami.

dan sejujurnya saya stres setengah hidup melihat teman-teman yang sudah jauh lebih berkembang dari saya.

sedang bertanya-tanya, apakah saya tepat ditempatkan untuk berkontribusi di tempat saya sekarang.
dulu, pertama mau masuk kader karena ada KB. suatu sistem 'pencetak 7 stars doctor'. suatu sistem, yang ingin sekali saya coba wujudkan, sukseskan. karena menurut saya, kalau kita berhasil di sini, dengan sedikit modifikasi kalau memang perlu, kita bisa 'mencetak manusia'. bibit, kader, entah apa namanya itu, untuk memegang pemerintahan nanti, untuk jadi pemimpin yang lebih baik, untuk negeri yang lebih baik.

terpikir, tidak mesti gue yang di sana, yang penting sistem ini bisa jalan, dan pemahaman itu benar-benar tertanam dan terpraktekan. tapi kadang, ada keinginan juga untuk ada di sana.

ini yang membuat saya berpikir: am i supposed to be here?

menurut saya, berada di kaderisasi itu berarti berusaha ada untuk orang lain, berusaha memfasilitasi, berusaha memberikan manfaat untuk orang lain.
manfaat apapun yang di dapat, dasarnya berasal dari manfaat yang diberikan untuk orang lain.

saat sedang berkontribusi, ya, saya kurang lebih khawatir mabanya tidak mendapatkan pemahaman yang diusahakan untuk tertanam
tapi di satu sisi secara pribadi saya masih terhantui pikiran "saya belum bisa sebaik teman-teman yang lain"

jadi kurang lebih, saya masih lebih berorientasi ke arah "saya" dibanding ke "orang lain" itu...

seharusnya, kalau saya bisa lebih mengikhlaskan pemikiran "bermanfaat untuk orang lain"
harusnya akan ada lebih banyak manfaat yang saya dapatkan dengan sendirinya
tapi ya itu tadi, otak saya yang sepertinya belum cukup matang ini masih terhantui pemikiran "saya belum cukup berkembang" maupun "saya belum cukup baik" dan semacamnya

dan sekali lagi, satu pertanyaan yang bersarang dipikiran: tepatkah saya di sini?

#pengenpensiuntapigarelagituceritanya